Bukti Cinta di Bukit Cinta

Bukit Cinta

Entah mengapa tempat itu dinamai bukit cinta, aku tak tahu. Entah siapa yang pertama kali memberikan nama untuk bukit kecil itu, aku juga tak tahu.

Yang aku tahu, ketika melintasi jalan raya Boawae-Soa pasti terlihat jelas oleh sepasang mata akan sebuah bukit indah dibalik hamparan padang Denabiko. Untuk mencapai puncak bukit itu, kita bisa berjalan kaki atau menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Di atas bukit itu, saya sering menjumpai orang-orang asyik bercerita sambil berselfie atau berwefie ria, sekaligus menikmati pemandangan sekitar yang memanjakan mata. Di puncak bukit itu, orang-orang mengalami cinta. Cinta dari Sang Pencipta yang telah menghadirkan panorama alam nan indah. Juga cinta dari sesama yang menghadirkan kegembiraan dalam nuansa kebersamaan yang penuh canda dan tawa.

Namun setelah badai corona mulai melanda dunia hingga merebak ke pelosok daerah, suasana bukit cinta sungguh berubah. Seperti halnya hari ini.

Bukit cinta tidak lagi seramai dulu. Tak seorang pun menjejakkan kaki di puncaknya. Tidak lagi terdengar riuh rendah suara anak manusia yang asyik menyulam kisah di atas tanahnya. Tiada lagi deru mesin kendaraan yang sekedar menghantar roda untuk menggilas badannya. Sunyi… Sepi… Sendiri… Tetapi bukan karena ia sengaja menyendiri.

Sepinya bukit cinta bukanlah sebagai tanda ia kehilangan cinta dari para penikmati kemolekannya selama ini. Namun, sesungguhnya di sanalah ada bukti cinta. Ada cinta yang begitu besar dari setiap insan akan kehidupannya sendiri dan juga keselamatan sesama di tengah maraknya wabah corona yang sangat berbahaya.

Kesunyian di bukit itu menggambarkan bahwa tidak ada yang berseliweran bebas, yang keluar rumah untuk urusan yang tidak mendesak. Ada kesadaran untuk mengikuti arahan pemerintah untuk tinggal di rumah dan tidak berkumpul, apalagi jika tujuannya hanyalah untuk bersenang-senang.

Tentu ini menjadi kabar baik yang kita dengar dan seharusnya sering kita dengar ketika wabah ini belum berakhir, sambil terus memohon kepada Empunya Kehidupan agar badai corona segera berlalu.

Ketika virus itu telah kembali ke asalnya, bolehlah kita beramai-ramai berdiri di sana, di bukit cinta. Bukan sekedar untuk berselfie ria saja, bukan pula untuk sekedar berbagi canda dan tawa. Tetapi lebih dari itu, dalam kebersamaan dengan nada gembira kita bersyukur karena kita masih diberi-NYA waktu.    

Pondok Sepi, 03 Mei 2020

 

Hujan Di Minggu Paskah

Dua belas April 2020 merupakan hari raya paskah bagi umat Kristiani di seluruh penjuru dunia. Tak luput di kampungku juga.

Paskah tahun ini jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Suasana sepi, jalanan lengang. Tidak ada hiruk pikuk manusia. Juga tidak ada deru lalu lalang kendaraan. Hampir semua umat beribadah di rumah mengikuti arahan Pemerintah dan Otoritas Gereja sebagai langkah memutus penyebaran virus corona atau yang lebih trend disebut Covid-19.

Covid-19 telah mewabah ke mana-mana. Sudah ribuan orang meninggal akibat serangan virus ini. Di Indonesia sendiri sudah 4.241 orang terkonfirmasi positif, 373 orang meninggal, dan 359 orang dinyatakan sembuh berdasarkan data dari www.covid19.go.id malam ini.

Salah satu warga NTT masuk dalam daftar orang terkonfirmasi positif. Pasien 01 covid-19  NTT ialah saudara El Asamau (kaka El) yang secara terbuka mengumumkan dirinya positif corona melaui akun YouTube miliknya.

Pernyataan kaka El di video pertamanya menimbulkan beragam komentar di jagad maya. Sebagian mendukung kaka El dengan doa agar cepat sembuh, namun tidak sedikit juga yang mengecam kaka El karena bagi mereka kaka El tidak berterus terang. Tak jarang, kata-kata kasar ala NTT berseliweran mewarnai pro kontra yang panas di group-group facebook.

Kaka El kemudian muncul lagi di video yang kedua. Kaka El mengklarifikasi pernyataan di video pertamanya dan meminta agar tidak membulinya.

Akh… Sudah lari ke mana ini?

Kembali ke minggu paskah.

Hujan mengguyur tanahku sejak pagi, awet meneduhkan alam dengan butiran-butiran nan halus. Lembut menyapa tanpa iringan angin apalagi badai. Kiranya hujan di minggu paskah ini mampu menyejukkan pikiran kita dari segala kekhawatiran dan kepanikan akan virus corona yang mulai merambat ke daerah kita. Menghapus panasnya perdebatan di media sosial yang sia-sia.

Seperti hujan yang turun tanpa melihat orang benar atau salah, kita hendaknya bersatu hati untuk mendukung dan berdoa untuk kesembuhan para pasien covid-19, khususnya kaka El. Kesembuhan merekalah yang akan membangun optimisme kita untuk menang dalam perang melawan covid-19.

Hujan di minggu paskah seakan mengajak kita untuk tetap tinggal di rumah, tidak perlu ke mana-mana. Lebih baik di sini rumah kita sendiri.

Lereng Ebulobo, 12 April 2020

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai